Pasar Beringharjo – Pasar Tradisional Di Jantung Kota Jogjakarta

Picture 1 of 13

Pasar Beringharjo Yogyakarta

Pasar Beringharjo – Pasar Tradisional Di Jantung Kota Jogjakarta

Jika anda sedang berkunjung ke Malioboro Jogja, alangkah lebih lengkap perjalanan anda jika mengunjungi Pasar Beringharjo. Pasar Beringharjo ini merupakan salah satu pasar tradisional yang telah menjadi pusat kegiatan ekonomi warga Jogjakarta selama ratusan tahun dan memiliki makna historis serta filosofi dengan Kraton Yogyakarta. Dimana Pasar Beringharjo ini merupakan salah satu komponen utama dari tata kota Kerajaan Islam dahulu kala dan biasa disebut dengan pola “Catur Tunggal”―catur memiliki arti empat dan tunggal memiliki arti satu atau arti dalam bahasa Indonesia adalah empat pilar yang menjadi satu―, yaitu Kraton (Keraton Yogyakarta), Alun-alun (Alun-alun Selatan dan Alun-alun Utara), Pasar  (Pasar Beringharjo) dan Masjid (Masjid Agung).

Sebelum bangunan Pasar Beringharjo berdiri, lokasi ini adalah adalah sebuah hutan yang ditumbuhi pohon beringin dan tak lama setelah berdirinya Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat pada tahun 1758, lokasi ini dijadikan tempat untuk transaksi perekonomian oleh masyarakat Yogyakarta. Setelah berproses selama beberatus tahun, lalu Keraton Yogyakarta menugaskan Nederlansch Indisch Beton Maatschappij (Perusahaan Beton Hindia Belanda) untuk membangun sebuah bangunan permanen yang berfungsi untuk kegiatan transaksi perekonomian bagi masyarakat Yogyakarta berbentuk los-los pada tahun 1925.

Nama ‘Beringharjo’ itu sendiri diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX. Pada saat itu beliau memerintahkan agar seluruh bangunan dan instansi diberi nama menggunakan bahasa Jawa. Sesuai dengan sejarahnya, dimana lokasi ini adalah sebuah hutan yang ditumbuhi oleh pohon beringin (bering) dan diharapkan membawa kesejahteraan (harjo). Nama ‘Beringharjo’ dirasa cukup tepat untuk menginterpretasikan lokasi ini pada saat itu karena di dalam falsafah Jawa pohon beringin memiliki makna kebesaran dan dapat pengayoman bagi banyak orang. Jadi, diharapkan pasar ini dapat memberikan kesejahteraan dan dapat pengayom bagi masyarakat Yogyakarta.

Pada saat itu, pasar dengan bangunan khas kolonial ini juga sempat mendapatkan sebuah julukan yang diberikan oleh pemerintah Hindia-Belanda sebagai “Ender Mooitse Passersop Java” yang artinya pasar terindah di tanah Jawa. Sebuah predikat yang cukup bergengsi pada saat itu.

Lokasi Pasar Beringharjo ini masih di areal kawasan wisata belanja Malioboro Yogyakarta, tepatnya terletak di ujung selatan sisi timur Jalan Malioboro – Jalan A Yani. Sangatlah tidak sulit untuk sampai di Pasar Beringharjo ini. Ketika anda masuk dalam kawasan wisata belanja Malioboro Yogyakarta, teruslah ke arah selatan hingga menemukan kerumunan pedagang yang menjual buah-buahan dan jajan pasar menggunakan payung dan tenda sebagai atapnya. Di situlah pintu utama Pasar Beringharjo.

Bangunan pasar ini terdiri dari dua bagian, bagian timur dan bagian barat. Masing-masing bagian itu memiliki tiga lantai yang di setiap losnya berisi berbagai macam pedagang, dari kuliner, batik kain dan batik berbentuk pakaian jadi grosiran, pernak pernik perlengkapan pernikahan dengan berbagai adat, pakain modern, bumbu dapur, buah-buahan, perkakas rumah tangga, pakaian dan sepatu serta majalah bekas, elektronik, kerajinan tangan, barang-barang antik dan masih banyak lagi.

Di bagian gerbang utama ini anda akan menjumpai bangunan berciri kolonial berwarna hijau (dahulu berwarna putih) dan di atas bangunan terdapat tulisan Pasar Beringharjo serta di bawah tulisan itu diberikan tulisan aksara Jawa. Di areal gerbang utama Pasar Beringharjo ini akan dijumpai pedagang-pedagang yang menjual jajanan pasar seperti pecel beserta lauk pauk sebagai pelengkapnya, bakpia kacang hijau, krasikan, brem dan masih ada beberapa jajanan pasar atau makanan yang dijual di bagian gerbang utama pasar ini serta ada juga beberapa kios-kios yang menjual emas.

Jika ingin membeli kain batik atau pakain batik siap pakai, pernak pernik perlengkapan pernikahan dengan berbagai adat, pakaian adat seperti blangkon dan surjan, pakaian modern siap pakai dan yang berhubungan dengan sandang, anda bisa mengunjungi los-los lantai satu bagian barat dan timur pasar ini. Pasar Beringharjo memang cukup terkenal dengan koleksi batik yang ditawarkan.

Setelah puas menikmati lantai satu Pasar Beringharjo, cobalah naik ke lantai dua. Ketika memasuki lantai dua ini, atmosfer akan terasa berbeda. Aroma rempah-rempah dan aroma dapur akan menggantikan aroma yang tercipta oleh kain-kain baru dan bahan-bahan sintetis pada lantai satu. Di lantai dua bagian barat dan timur ini memang menawarkan  berbagai bumbu dapur, sayur mayur, keperluan dapur lainnya dan warung makan.

Jika sedang ingin mencari bacaan yang sudah tidak terbit lagi dan kerajinan atau anyaman, mampirlah ke lantai tiga di bangunan sebelah timur Pasar Beringharjo. Di sana terdapat majalah atau koran-koran bekas dan pedagang yang menjual hasil kerajinan tangan. Selain itu di lantai tiga bagian barat dan timur juga menawarkan buah-buahan, bunga, pakaian dan sepatu bekas yang masih layak pakai, alat-alat pertukangan dan pertanian, perkakas rumah tangga dan masih banyak lagi.

Setelah puas dengan koleksi pedagang yang berada di dalam gedung Pasar Beringharjo dan ingin menyudahi perjanlanan, cobalah mampir terlebih dahulu ke daerah utara Pasar Beringharjo ini. Daerah itu dikenal dengan Kampung Pecinan, berbentuk gang kecil dan memiliki koleksi yang cukup menarik untuk dikoleksi. Di gang ini ada beberapa kolektor yang menjajakan koleksinya seperti uang kertas dan koin lama dari berbagai negara mulai dari harga Rp 1.000, kerajianan dengan bahan kuningan dan cap untuk membuat batik yang dijual oleh Pak Joni dengan harga mulai dari Rp 150.000, kacamata kuno yang dijual oleh Pak Trisno Wiyadi dan barang-barang antik lainya ada di bagian ini.

“Harganya masih bisa di nego kok mas, namanya juga pasar tradisional. Kalo gak nego gak asik mas, tapi yang wajar negonya”, ungkap Pak Joni dengan senyum ramahnya yang memiliki beberapa koleksi barang antik dan kerajinan kuningan seperti lonceng, tempat untuk menaruh lilin, uang logam lama, lambang Keraton jogja, cap untuk membatik terbuat dari kayu dan masih banyak koleksinya yang koleksinya itu semua dibandrol mulai dari Rp 1.000 sampai hampir sejuta.

Di era modern ini memang banyak sejumlah tempat-tempat perbelanjaan modern yang seakan menggeser keberadaan pasar-pasar tradisional termasuk Pasar Beringharjo ini, tetapi Pasar Beringharjo tetap eksis memikat hati para wisatawan lokal maupun manca negara dan bisa dibilang Pasar Beringharjo ini telah menjadi spot primadona di Yogyakarta.

« « Previous : Bukit Punthuk Setumbu – Miniatur Candi Borobudur

Next : Upacara Labuhan Parangkusumo – Kisah Antara Panembahan Senopati Dengan Ratu Kidul » »